Header Ads

ad 1

May Day 2018 dan spanduk propaganda di asrama mahasiswa Papua Surabaya

Spanduk murahan propaganda terhadap orang Papua di Surabaya - (Foto/PacePapushare))
Surabaya, PacePapushare - Bertepatan dengan Memperingati 1 Mei 2018 "Hari Kemenangan Buruh Se- dunia" dan "bagi orang Papua 1 Mei adalah Hari Aneksasi Papua ke dalam Indonesia", 1 Mei yang menyesatkan bagi rakyat Papua.

Aksi damai Memperingati 1 Mei Hari Kemenangan Buruh Se- dunia dan hari aneksasi Papua di depan balai kota Surabaya bersama Aliansi Rakyat Melawan (GSBI, FMN, SERUNI, AMP, SPS, RAKAPARE, SURABAYA MELAWAN, Serikat Pekerja Farmasi), Aksi damai tersebut berjalan dengan lancar (01/04/2018).

Setelah aksi damai tersebut Aliansi Mahasiswa Papua membubarkan diri dan kembali ke asrama mahasiswa Papua kamasan III Surabaya. Sesampai di asrama, mahasiswa Papua dikagetkan dengan adanya spanduk propaganda yang terpasang di depan asrama. Seolah diajak bermain kucing-kucingan, masa mau menipu mahasiswa Papua yang sebagai mahasiswa yang terdidik atas sejarah dan jati diri sebagai orang Papua.

Mahasiswa dan orang Papua di Surabaya menanggapinya dengan santai, membiarkan propaganda tersebut digantungkan, mahasiswa juga tidak menanggapi dengan serius, tidak terpancing emosi dan lain-lainnya karena mahasiswa tahu bahwa itu kemenangan terbesar bagi rakyat Papua.

Spanduk tersebut ditemukan dengan bertuliskan "Ingat PEPERA disaksikan PBB dan utusan negara Belanda, PEPERA 1969 sah sesuai hati nurani rakyat Papua" sementara sejarah bagi orang Papua tercatat  "1 Mei merupakan hari Aneksasi Kemerdekaan Kedaulatan Bangsa Papua Barat (West Papua), yang mana pernah menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 1 Desember 1961. Begitupula dalam proses penyerahan kekuasaan Oleh UNTEA itupun dilakukan sepihak dan tanpa sepengetahuan rakyat Papua Barat. Dan juga dalam pelaksanaan PEPERA tahun 1969, pun terjadi banyak kecurangan; diantaranya tidak terlaksananya pelaksaan referendum "One Vote, One Man" sesuai mekanisme internasional, yang terjadi malah dewan musyawarah yaitu 1025 orang yang memilih dari 800.000 jiwa di Papua saat itu. Maka perjuangan rakyat Papua Barat menuntut hak menentukan nasib sendiri adalah adalah hak universal yang harus didapatkan oleh bangsa manapun didunia sesuai dengan Kovenan internasional tentang hak-hak sipil dan politik, Kovenan mengenai hak-hak ekonomi, social dan budaya dengan resolusi PBB 2200 A XXI berlaku 3 Januari 1976. Dalam dua kovenan tersebut memang disebutkan dalam Pasal 1 ayat 1, bahwa semua bangsa mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri yang memberikan mereka kebebasan untuk menentukan status politik, kebebasan untuk memperoleh kemajuan ekonomi, sosial dan budaya"..

Memang penjajah itu paling licik bermain kucing- kucingan.


Tidak ada komentar

Gambar tema oleh enjoynz. Diberdayakan oleh Blogger.