Header Ads

ad 1

Indonesia STOP Sandiwara! Trada kontak tembak saat evakuasi, yang ada orang asli Papua ketakutan aparat banyak

Sandiwara Indonesia di Papua, Tembagapura
Tembagapura, PacePapushare - Hari ini kabar hoax datang lagi dari kampung Kimberly, Tembagapura, Papua. Kontak senjata antara Satgas TNI-Polri dengan kelompok sipil bersenjata (KKB) mewarnai pembebasan 346 warga sipil dari kampung Kimbely, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua,  dilansir papua.antaranews.com, (17/11).

Namun dalam pesan yang diterima PacePapushare sampai saat ini tidak ada penembahkan saat evakuasi, aparat TNI dan Polri datang ke kampung siang ini jam 12:00 WIT. (17/11). Di kampung Utikini dan Banti.

Yang ada warga sipil non Papua dievakuasi dengan pengawalan aparat gabungan Indonesia, sedangkan warga sipil asli Papua bersama seorang pendeta setempat sedang diisolasi dalam Gereja di Banti.

Pukul: 04:44 WIT. dari Utikini, masyarakat Utikini ada dalam kurungan/sandera oleh gabungan TNI-Polri di dalam Gereja.

Saat ini warga asli Papua dievakuasi dalam Gereja oleh aparat TNI dan Polri seperti tampak pada foto , warga dilarang menggunakan Telepon dan Kamerea. Foto ini diambil oleh warga Banti secara tersembunyi.

Aparat dengan jumlah yang banyak dengan senyata dan perlengkapan tempur lengkap, masyarakat ketakutan dan memilih mengungsi masuk ke dalam Gereja.

Masyarakat dilarang menggunakan Telepon dan Kamera. Kami susa foto kalo lihat kami ditembak, dalam pesan tersebut.

Dua kampung Banti dan Utikini, aparat keamanan Indonesia gabungan TNI-Polri memasuki dan mengguasai. Warga sipil lain melarikan diri ke hutan dan sebagian lainnya berada dalam Gereja.

Cara aparat memasuki perkampungan ini seperti mereka rasa masuk daerah target serangan. Aparat isolasi warga di Gereja namun warga mengalami ketakutan.

Berita Lain.

Brigpol Firman Tewas Ditembak TNI, Ini Buktinya

Saat evakuasi Anggota Detasemen B Brimobda Papua bernama Brigpol Firman
Klaim berbagai media bahwa TPN-OPM adalah pelaku penembakan terhadap Anggota Detasemen B Brimobda Papua bernama Brigpol Firman pada Rabu (15/11/2017) kemarin di Mile Point 69 Tembagapura perlu ditinjau kembali. Pasalnya, telah muncul sebuah fakta mengejutkan dalam diskusi di kalangan intel Polisi dan Brimob di Papua.

Dalam diskusi di beberapa Group WA Polda Papua, Personil IT Telkom Mabes Polri bernama Ipda Mario kepada Intel Brimob Polda Papua membeberkan beberapa temuan kejanggalan.

Pertama, berdasarkan pengecekan terhadap GPS Personil Tim Satgas dari Polda Papua atas nama Brigpol Firman dan Aipda Yongki Ronte, bahwa pada saat terjadinya penembakan, titik koordinat dari Tim Brimob Detasemen B berdekatan dengan Tim TNI Anggada 1.

Kedua, berdasarkan koordinat hasil pemantauan IT terdapat keanehan yaitu
Anggada 1 (Personil TNI) mengirimkan sinyal GPS-nya pada pukul 01.08 WIT dengan koordinat : 137.5.0.42 E. Sinyal GPS berikutnya baru dikirim sekitar 4 jam kemudian, yaitu pukul 05.16 WIT dengan koordinat : 137.4,59.81 E.

Ketiga, dari data poin kedua, diketahui bahwa Tim Anggada 1 TNI tidak mengirimkan sinyal sekitar 4 jam, padahal GPS akan mengirimkan koordinatnya secara otomatis per 2,5 menit jika tidak ada kendala alam, dan akan termonitor langsung di Laptop Posko Terpadu.

Keempat, berdasarkan hasil pengecekan IT Personil Satuan Brimob Detasemen B Polda Papua terpantau di Koordinat :
137.5,5.46 E pada pukul 01.04 WIT, Koordinat : 137.5,5.35 E pada pukul 03.29 dan Koordinat : 137.5,3.66 E pada pukul 04.36 WIT.

Kelima, jika dilakukan perhitungan menggunakan GPS secara manual, Pasukan TNI Anggada 1 pada pukul 03.59 WIT berada di belakang atau di bukit lebih tinggi berjarak sekitar 200 meter dari Pasukan Satgas Polda Papua.

Keenam, Satgas Polda Papua dalam hal ini Brimob Detasemen B Timika ditembak dari arah belakang dan mengenai punggung Brigpol Firman dan Aipda Yongki Ronte. Padahal, mereka mengejar TPN-OPM melalui rute-rute yang dicurigai dan jika terjadi kontak tembak maka posisinya akan berhadapan.

Ketujuh, walaupun dihujani tembakan sekitar pukul 03.30 WIT, Anggota Brimob Detasemen B Timika tidak membalas karena mengetahui dengan pasti bahwa mereka ditembak oleh TNI dan diduga telah terjadi kesalahan komando.

Kedelapan, setelah ada korban penembakan di pihak Brimob, Dantim Anggada 1 TNI datang meminta maaf, bahwa anak buahnya melakukan kesalahan yaitu menembak Brimob yang dikira musuh, padahal mereka dilengkapi dengan fasilitas Night Vision dan saat penembakan cuaca di sekitarnya terang.

Kesembilan, Pandam XVIII/Cenderawasih
Mayor Jenderal TNI George Elnadus Supit sudah meminta maaf, Pangdam bahkan sampai menangis dan meminta agar masalah ini didiamkan dan tidak boleh ada publikasi media. Baca selengkapnya

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh enjoynz. Diberdayakan oleh Blogger.