Header Ads

ad 1

Alkitab dibakar, pengalihan isu keburukan kasus pembunuhan 5 orang di Jayapura

Stop Kekerasan di Papua
PacePapushare - Ketika kasus-kasus pembunuhan terhadap orang Papua dan pelakunya adalah aparat keamanan Indonesia dan warga non Papua, pasti ada pengalihan-pengalihan isu tertentu untuk mengalihkan pertahatian publik dengan masalah lain, seperti yang terjadi beberapa kasus-kasus seperti dibawah ini.

Modus yang sama pernah terjadi di Manokwari tahun 2016 lalu untuk mengalihkan isu pembuhan seperti pada  26/10/2016 jam 21:45 WPB bertempat di sekitar Sanggeng Manokwari terjadi penikaman terhadap anak Papua bernama "Vigal Pauspaus" asal Fakfak hingga isi perut keluar. Penikaman ini dilakukan oleh seorang warga non Papua asal Makasar.

Mendengar hal tersebut masyarakat Papua di Sanggeng langsung melakukan perlawanan dengan memalang jalan-jalan.

Aksi pemalangan oleh masyarakat ini berujung bentrok dengan aparat kepolisian RI di Manokwari ketika aparat kepolisi berusaha untuk membuka palang namun terjadi tarik menarik palang akhirnya aparat kepolisian mengeluarkan tembakan rentetan yang mengakibatkan tewasnya salah satu masyarakat yang juga anggota pengurus WPNA wilayah Manokwari "Onesimus Rimayom" dan beberapa masyarakat sipil lainnya yang luka parah dan dirawat di RS Angkat Laut fasharkan manokwari. Baca kasus Manokwari 3 korban Penembakan, 1 Tewas Aktivis Papua, Bermula dari Anak Fakfak Yang ditikam.

Tak lama, belum juga seminggu setelah kejadian tersebut, 2 mahasiswa Papua di bantai oleh Orang Tak Dikenal (OTK), Senin, (31/10) sore, Di Pantai Amban, Manokwari-Papua Barat.

Nama kedua korban diantaranya, Irianike Thanesia Sapulete, (Mahasiswi Unipa, Fakultas Peternakan, Jurusan Peternakan,Tahun angkatan 2015) dengan kata OTK ini hanya untuk mengalihkan isu menutupi pembunuh orang Makasar dan aparat ini. Baca kasus OTK Di Manokwari, Menikam Mati 2 Mahasiswa Unipa.***

Dan akhir-akhir ini  terjadi beberapa kasus pembunuhan di beberapa tempat yang berbeda di Jayapura, menurut informasih yang dilansir dilaman tabloidjubi.com bahwa ada beberapa kasus pembunuhan dikota Jayapura dan sekitarnya, diantaranya pada 30 April 2017, seorang pria bernama Andre Marweri ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di Lapangan Buper Waena, Distrik Heram. Korban mengalami luka bacokan di punggung hingga leher hingga tewas. Kamis 11 Mei 2017 dini hari, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih bernama Dr. Suwandi dihadang dua orang tak dikenal saat hendak pulang ke rumahnya di jalan Buper Waena. Pelaku menyerang korban dengan parang hingga tewas. Sabtu 13 Mei 2017, seorang wanita bernama Fitri Diana (22) tewas setelah dihadang tiga orang tak dikenal di dekat Kampung Netar Distrik Sentani Timur. Korban saat itu hendak ke Sentani bersama seorang rekannya yang juga anggota polisi Brigpol Paul Tomatala. Pada hari yang sama 11 remaja dan anak-anak dihadang oleh orang tak dikenal di sekitaran Gunung Ottow Geisler Kompleks Bisoka 2, Jalan Munawir, Kotaraja Dalam Kelurahan Vim Distrik Abepura, Kota Jayapura. Pelaku penghadangan menggunakan topeng.

Rangkaian aksi kekerasan ini berlanjut hingga Jumat (19/5/2017) setelah ditemukannya mayat seorang perempuan yang kemudian diketahui sebagai penjual tahu tek di depan Rumah Sakit Dian Harapan pada pukul 05.15 pagi WIT. Jenazah perempuan berusia 45 tahun ini ditemukan dalam parit tepat di depan PLTD Waena. Korban  yang merupakan warga Perumnas II Dalam, Gang Matoa di duga tewas karena dibunuh.

Penangkapan dan penyisiran polisi

Jumat (19/5/2017) sore penyisiran yang dilakukan Kepolisian Resort (Polres) Kota Jayapura, dalam penyisiran tersebut satu dari delapan orang yang ditangkap berinisil MI terpaksa ditembak lantaran melawan ketika hendak ditangkap.

Aksi balasan berujung penikaman

Jenazah yang ditemukan di depan PLTD Waena ternyata memicu kemarahan sebagian kelompok masyarakat Kota Jayapura yang disebut-sebut berasal dari daerah yang sama dengan korban.

Saat kelompok massa ini sedang berteriak meluapkan kemarahan mereka, dua warga masyarakat tewas saat menggunakan sepeda motor. Dari penelusuran Jubi, dua korban penikaman ini adalah dua beradik yang berasal dari Kabupaten Puncak. Sang adik, Yuvenus Kulua bisa diselamatkan. Sedangkan sang kakak, Pius Kulua tewas ditempat kejadian setelah ditikam dan dibacok oleh beberapa orang dari kerumunan massa. Kakak beradik ini diketahui tinggal di sebelah kali Perumnas III. Baca kasus “Sakitnya” Kota Jayapura : Kriminal, pembunuhan, penangkapan, penyisiran dan target operasi.

Dan kini terjadi pembakaran Alkitab, berakibat dari kejadian ini, tiga orang warga asli Papua ditembak oleh militer ditengah keramaian. Baca kasus Tiga Warga Papua Ditembak, Polda Papua Minta Masyarakat Tetap Menahan Diri. dan pembakaran Alkitab diduga dilakukan oleh oknum TNI. Baca kasus Oknum TNI Diduga Bakar Alkitab di Papua. Hanya mengalihkan isu penembahkan dan pembunuhan yang dilakukan oleh aparat dan warga non Papua, masalahnya, seperti yang lansir Jubi sejak tanggal 30 Maret 2017, sejumlah kekerasan terjadi di Kota Jayapura. Lima orang  telah meninggal akibat aksi-aksi kekerasan ini, jika termasuk dalam kasus bakar Alkitab menjadi delapan orang meninggal. Polisi belum bisa menghentikan rangkaian aksi kekerasan ini sehingga memunculkan beragam rumor di tengah masyarakat Kota Jayapura. Mulai dari kepentingan Pilkada, pengalihan isu Papua Merdeka hingga konflik kepentingan di internal institusi kepolisian itu sendiri.

Jadi disini kita bisa ketahui bahwa polisi lebih menutupi pelaku kekerasan oleh non Papua dan aparat keamanan itu sendiri, dengan demikian selalu ada modus-modus oleh oknum tertentu untuk menutupi keburukan dan kebrutalan mereka. Lalu apakah untuk orang Papua mati sebagai binatang?

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh enjoynz. Diberdayakan oleh Blogger.