Header Ads

ad 1

Transmigrasi Indonesia Adalah Kejahatan Negara Terhadap Rakyat

Warga transmigrasi di Papua - foto Natanael Lobato fb
PacePapushare - Transmigrasi adalah kejahatan kemanusian atau pelanggaran HAM terburuk, yang terbesar di abad ini terhadap masyarakat rakyat Papua. karena pemindahan manusia secara terencana dan besar besaran, mengakibatkan hilangnya suatu masyarakat pribumi, di indikasikan bukan hanya motif ekonomi semata tetapi juga genocide.

Setiap kapal putih masuk Papua bagian utara memuntahkan 2.000an pendatang dari Jawa, Bali, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan.

Tiga kali seminggu kapal yang masuk berarti 6.000an pendatang. Pesawat udara rata-rata 300an penumpang pendatang sekali mendarat, dikali 10 (bahkan lebih) pendaratan berarti 3000 sehari, dan 21.000 seminggu. Artinya, dalam seminggi saja, migrasi penduduk luar ke Papua berkisar 27.000 (21.000+6000). Itu estimasi kasar, belum termasuk yang datang dengan kapal veri atau yang lewat laut selatan.

Angka kematian orang Papua, di wilayah adat Tabi saja berkisar 10 orang perhari (terbunuh atau mati karena peyakit), dikali tujuh wilayah adat berarti 70 orang sehari, seminggu 490 atau rata-rata 500 orang Papua mati. Angka kelahiran justru lambat, juga karena m angka kematian ibu dan anak yang paling tinggi di Papua.

Legitimasi publik di Papua ada di tangan orang pendatang saat ini. Artinya setelah "otsus pincang" berakhir 2025, jabatan publik (Gubernur, Bupati, Camat atau DPRP/DPRD) akan diambil alih para pendatang. Artinya, riwayat orang Papua yang hari ini malas tahu dengan perjuangan Papua Merdeka, dan tunduk jadi budak penjajah akan berakhir dengan cerita nostalgia semu. Artinya, apa pun usaha kita menjadi pelayan kolonial, sama sekali tidak berguna bagi masa depan Papua dan orang Papua kalau hari ini tidak pikir, apalagi berkontribusi bagi perjuangan Papua Merdeka.
Artinya, keselamatan orang Papua saat ini bukan berada pada seberapa banyak kekayaan yang harus dikumpulkan, atau seberapa tinggi pengetahuan yang dicari. Keselamatan orang Papua berada pada keputusan orang Papua untuk sadar, bersatu dan berjuang untuk Papua Merdeka, yakni berdaulat sebagai sebuah bangsa dan negara. Bukan nanti, karena kalau nanti kita sudah habis. Waktunya sekarang! Bergerak bersatu dan lawan!

Bentuk penjajahan Indonesia telah memporak-porandakan tatanan adat, persatuan dan kesatuan serta harmonisasi kehidupan masyarakat Papua.

Usaha untuk menguasai Papua dan memarjinalkan Papua dapat dilakukan dengan POLITIK, ASIMILASI, TRANSMIGRASI juga dengan legitimasi UU Pertanahan yang dapat MENGABAIKAN HAK ADAT ULAYAT rakyat Papua.

Hari ini di depan mata kita, juga di dekat telinga kita, kita mendengar dan melihat beberapa kasus pengambil alihan tanah-tanah adat masyarakat Papua dengan cara-cara yang kurang etis dengan berlindung pada legitimasi tertentu. Yang mengherankan saya bahwa justru Pemda setempat ada di balik semua kasus ini, inilah realitas Papua saat ini.

PBB PUN TELAH MELARANG TRANSMIGRASI, dengan adanya konvensi perlindungan pribumi layak diadukan ke mahkamah Internasional sebelum terlambat.

Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)Tentang Hak-Hak Masyarakat Adat - 2007 (telah diratifikasi Indonesia):
Pasal 8
1. Masyarakat adat dan warga-warganya memiliki hak untuk tidak menjadi target dari          pemaksaan percampuran budaya atau pengerusakan budaya mereka.
2. Negara akan menyediakan mekanisme efektif untuk mencegah, dan mengganti kerugian     atas:
  1. a) Setiap tindakan yang bertujuan atau berakibat pada hilangnya keutuhan mereka       sebagai kelompok masyarakat yang berbeda, atau nilai-nilai budaya atau identitas       etnik mereka;
  2. b) Setiap tindakan yang bertujuan atau berakibat pada pencerabutan mereka dari         tanah, wilayah, atau sumber daya mereka;
  3. c) Setiap bentuk pemindahan penduduk yang bertujuan atau berakibat pada                 pelanggaran atau pengurangan hak mereka apapun;
  4. d) Setiap bentuk pencampuran atau penggabungan paksa;

Kawan-kawan dan para saudara Papua tentu tidak mau terus hidup dalam Indonesia rasis dan fasis. Penderitaan dan penghinaan yang merata, yang menimpa seluruh lapisan Rakyat Papua , mempererat persatuan seluruh Rakyat dalam perlawanan terhadap kolonialisme indonesia di Papua.

Itulah sebabnya Indonesia tidak peduli untuk ras Melanesia yang ada di Papua. [AN]


PAPUA MERDEKA!
A Luta Continua ! Terus Barjuang !
Resistir E Vencer ! Bertahan sampai titik darah penghabisan!
Hidup dan jayalah tanah Papua !
Kita Harus Mengakhiri
Oleh : Natanael Lobato
Aliansi Rakyat TL untuk Kemerdekaan Papua

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh enjoynz. Diberdayakan oleh Blogger.