Header Ads

ad 1

Permintaan Muslim Sudah Dipenuhi, Ada Apa Dibalik Proses Hukum?

Presiden GIDI Papua, Pdt. Dorman Wandikbo – Jubi/Abeth You
Jayapura, Jubi, Pace Papushare  – Kondisi yang terjadi Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua sudah normal pasca terbakarnya mushola Juli lalu.
Pemerintah bahkan sudah membangun moshola baru sehingga perayaan Idul Adaha, 25 September lalu berjalan aman dan kondusif.

Presiden GIDI Papua, Pdt. Dorman Wandikbo kepada Jubi di Kantor Sinode GIDI, Senin (16/11/2015) mengatakan bahwa pihaknya juga sudah membangun kembali Rumah Kios (RuKi) milik para pedagang yang terbakar dalam insiden 17 Juli itu. Sebagian besar sudah selesai dibangun oleh pemerintah dan telah dipergunakan oleh para pedagang untuk berjualan.

“Selain itu, perlu kami kemukakan di sini, bahwa tanah di mana Mushola dan kios-kios berdiri sesungguhnya merupakan tanah milik Gereja GIDI wilayah Toli di Karubaga yang direlakan untuk dipergunakan oleh Pemerintah dan warga dari luar Papua. Karena itu, kami merasa prihatin sekaligus kecewa apabila proses hukum terus dilakukan terhadap kedua pemuda tanpa mempertimbangkan kondisi riil di Tolikara hari ini,” kata Pendeta Dorman.
Semua permintaan umat Muslim telah dikabulkan, bahkan tanah pun direlakan. Ia mengatakan, kini dengan adanya proses hukum yang dilakukan terhadap dua pemuda yang juga jemaatnya– Jundi Wanimbo dan Arianto Kogoya menjadi sebuah tanda tanya besar.
“Ini ada apa? Apa yang kami salah? Apa yang kami belum lakukan untuk umat Muslim di Tolikara? Semua sudah aman. Kami sudah berdamai,” katanya.

Oleh karena melihat situasi sudah aman, pihaknya meminta kepada pihak ketiga yang sedang bermain demi kepentingan sesuatu ini musti diperiksa juga, sebab ulahnya ada pada pihak ketiga tersebut.

“Dengan hormat kami meminta kepada H. Soleh dan H. Ali Muchtar harus lihat kembali atas perdamaian yang telah kami lakukan itu. Dan kami juga minta kepada bapak berdua (H. Soleh dan H. Ali Muchtar untuk segera tarik surat pengaduan proses hukum yang ada di pengadilan ini. Kami mohon segera tarik,” ujarnya berharap.

Setelah kedua pihak (GIDI dan Muslim) berdamai, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua telah menyambangi tanah Jawa guna menyosialisasikan kepada sesama umat di negara Indonesia, bahwa kasus Tolikara telah berdamai dan kini tidak ada masalah lagi di antara sesama di tanah Papua.

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, mengapresisasi hasil kerja Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua yang diketuai Pdt. Lipius Biniluk.

Hal itu disampaikan Wapres saat rombongan FKUB Papua bertemu langsung dengan orang nomor 2 di Indonesia ini, di kediamannya di Jakarta, Selasa (20/10/2015).
Wapres Jusuf Kalla mengatakan, tidak ada konflik agama dalam kasus Ambon dan Poso, lebih karena persolan politik, khususnya pembagian kekuasaan.

“Kita bersama-sama mencari solusi untuk membangun perdamaian dengan mengajak seluruh pemuka agama untuk bergantian rapat di rumah ibadah. Kasus Aceh Singkil akan ditindaklanjuti. Kita perlu buat peraturan. Implementasi peraturan harus konsisten untuk bisa mengayomi dan menertibkan. Tanpa peraturan akan kacau. Ada peraturan saja masih ada masalah, apalagi kalau tanpa peraturan sama sekali,” kata Jusuf Kalla.

Kalla menyambut baik usulan FKUB Papua untuk menggelar konferensi nasional untuk menata dan merumuskan kerukunan umat beragama di Indonesia.

“Ini penting karena FKUB menjadi penjaga gawang moral, sangat dekat, dan dapat mengarahkan umat masing-masing agama untuk mendukung kerukunan,” kata Wapres.
Ketua FKUB Papua, Pdt. Lipius Biniluk dalam pertemuan dengan FKUB Provinsi Jawa Tengah, di Semarang (21/10/2015) ketika menggelar seminar dengan tema ‘Tukar Pengalaman Dalam Mengelola Perbedaan’ menyampaikan, Papua berada dalam kondisi aman. Persoalan Tolikara aman. Di situ, dia menekankan rencana konferensi nasional FKUB untuk merumuskan solusi yang lebih komprehensif untuk masalah kerukunan di tanah air.

“Saat ini kita mengalami kasus intoleransi agama yang tampaknya menghancurkan imej dan citra negara kita yang dikenal sebagai negara demokratis yang toleran, seperti disampaikan pak Wapres RI, Yusuf Kalla di hadapan pemimpin dunia di Amerika Serikat beberapa waktu yang belum lama. Insiden Aceh Singkil yang terkini merupakan tantangan keragaman dan toleransi yang mesti diselesaikan secara tuntas,” kata Pdt. Lipius Biilik.

Ketua Nahdatul Ulama (NU) wilayah Papua, Toni Wanggai mengungkapkan, pihaknya mengklarifikasi tentang masalah Tolikara. Dalam klarifikasi yang merujuk pada laporan hasil turun lapangan FKUB ke Tolikara.

“Kami menyampaikan bahwa kerukunan telah tercipta 200 tahun antara Muslim dan Kristen. Tolikara bukan masalah konflik agama, hanya miskomunikasi. Sejauh ini sudah kami bangun kembali Masjid dan pengungsi telah diupayakan untuk bisa kembali mendapatkan dana atau modal untuk memulai bisnisnya,” ujar Toni Wanggai. (Abeth You)


Editor : Timoteus Marten
Orang Papua Di Balik Jeruji  - Pacepapushare

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh enjoynz. Diberdayakan oleh Blogger.